Jumat , 24 November 2017
Home / BERITA UTAMA / GLOBAL SEVILLA SCHOOL DIDUGA LAKUKAN PEMBOHONGAN PUBLIK

GLOBAL SEVILLA SCHOOL DIDUGA LAKUKAN PEMBOHONGAN PUBLIK

Izinnya Sekolah Nasional Tapi Nyatakan Sekolah Internasional

Gabby (korban) dan Drs H Samlawi
Gabby Sheril Howard (8/Almh)                                                              Drs H Samlawi

AMUNISINEWS.COM, JAKARTA – Peristiwa mengenaskan tewasnya Gabriella Sheril Howard (8) di kolam renang Global Sevila School (GSS) di Puri Indah, Kembangan, Jakarta Barat sudah setahun, sejak kejadian pada 17 September 2015 lalu.

Namun belum ada tanda-tanda kasus tersebut masuk ke persidangan. Polisi pun belum melakukan penahanan terhadap tersangka Ronaldo Laturette.

Kondisi ini membuat kedua orang tua Gaby, Verayanti dan Asip terus bersedih dan tak henti memperjuangkan agar proses hukum pidana atas kematian anak pertamanya yang masih duduk di kelas tiga tersebut menemui titik terang.

Sekolah ini diduga hanya mengantungi izin sekolah nasional namun menyatakan sebagai sekolah internasional.
Amunisi mencoba menelusurinya dengan melakukan konfirmasi kepada Kepala Suku Dinas (Kasudin) Pendidikan Kota Administrasi Jakarta Barat, Drs H Samlawi, M.M. “Ya, Global Sevilla School (GSS) hanya mengantungi izin sekolah nasional,” aku Samlawi, yang saat memberikan keterangan didampingi oleh dua stafnya, Rabu (21/9).

Keterangan Samlawi ini bertolak belakang dengan temuan yang didapat wartawan misalnya pada atribut seragam sekolah ada dise-but Internasional. “Apakah ini dapat dikatakan sebagai pembohon-gan publik?” tanya Amunisi. “Ya bisa disebut seperti itu,” kata Samlawi. Dia berharap apabila ditemukan pengakuan internasional segera melaporkan agar GSS ditindak tegas,” tambah Samlawi.

Menurut Samlawi, sejak peristiwa mengenaskan menimpa Gaby, dia dan Komisi E DPRD DKI Jakarta ke GSS, menemukan sejumlah pelanggaran.Bahkan atas pelanggararan tersebut, Kasudin sudah memberikan surat peringa-tan keras kepada GSS, tertanggal
8 Oktober 2015 ditujukan kepada Kepala SDS Global Sevilla.

Isi surat peringatan antara lain pada butir pertama disebut telah terjadi pelanggaran atas pelaksanaan kurikulum. Bentuk pelanggarannnya antara lain soal Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Menurut H Samlawi, sampai 21 September 2015 GSS belum menetapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Hal ini, katanya, terbukti GSS belum memiliki dokumen KTSP yang disahkan oleh kepala sekolah dan diketahui oleh Kasudin.
Pelanggaran lain, katanya, materi renang dalam kurikulum 2006 seharusnya merupakan sebu-ah materi pilihan namun di GSS menjadi materi wajib. “Materi renang dalam kurikulum 2006 tercantum pada urutan standar kompetensi nomor 10, seharusnya diajarkan pada semester II,” kata H Samlawi.

H Samlawi juga menyebut penggunaan kolam renang dengan kedalaman 140 centemeter tidak sesuai dengan peserta didik kelas
III. “ Kami dengar kolam renang tak digunakan lagi,” katanya.
Sudin Pendidikan juga me-nemukan pelanggaran atas peng-gunaan kurikulum Cambridge den-gan letter of agremen (LoA) resmi dan menggunakan tenaga kerja asing (TKA) sesuai RPTKA dan IMTA yang ada dengan dokumen legkap, namun status GSS bukan SPK (Satuan Kerjasama LPA dengan LPI).
“Atas pelanggaran ini, Suku Dinas Pendidikan Jakarta Barat telah memberikan peringatan keras kepada GSS,” tegas H Samlawi.

Sementara itu, pihak GSS diwakili Wibowo yang mengaku sebagai staf umum saat dikonfirmasi Amunisi dan deteksionline mengaku tidak mengerti apa-apa soal peristiwa yang menimpa Gaby. “Kami menghormati proses hukumnya,” kata Wibowo, terkesan enggan menjawab pertanyaan.
Pria yang menurut informasi sebagai petugas marketing tapi mengaku staf umum ini pun mengaku tidak mengetahui soal peringatan dari Suku Dinas Pendidikan.
Intinya, Wibowo diduga me-mang ditugaskan untuk bungkam. Dia menyarankan agar mengajukan surat permohonan wawancara. “Kami harus hati-hati karena itu ajukan surat saja,” kata Wibowo.
Kehati-hatian Wibowo malah terkesan aneh, karena dia juga tak mau menjawab ketika ditanya siapa kepala sekolah di tempat itu.

Sementara, seorang pekerja mengatakan kepala sekolah nasional adalah Linda dan kepala sekolah internasional adalah Aderini Kencana M Sinurat.
Kendati GSS dinilai melakukan pelanggaran, namun Suku Dinas Pendidikan Jakarta Barat belum bisa menutup sekolah itu. “Kami sifatnya hanya edukasi, dan yang berhak melakukan penutupan adalah Dinas,” kata H Samlawi yang menilai selama ini GSS memang kurang koperatif.

Fakta Mencurigakan
Pada kesempatan lain, orang tua Gaby, mengungkap beberapa fakta yang menurutnya sangat aneh dan mencurigakan. Antara lain guru sudah ditetapkan jadi tersangka, tapi guru bernama Ronaldo Laturette masih bebas berkeliaran, bahkan mengajar lagi di sebuah sekolah di Tangerang.
“Sementara ini menurut kami alat bukti sudah lengkap, bahkan makam Gaby pun sudah dibongkar untuk dilakukan otopsi dan hasil otopsi menunjukkan Gaby meninggal karenA tenggelam namun kasus ini tak kunjung naik ke persidangan. Sampai saat ini belum ada kejelasan hukum atas kasus yang menimpa anak saya,” kata Verayanti.
Berkas perkara kasus ini memang sudah diserahkan kepada Kejaksaan. Tapi dikembalikan lagi, den-gan catatan, polisi diminta oleh jaksa untuk memeriksa beberapa saksi kunci, “Kami akan meminta KPAI untuk memaksimalkan pemanggilan saksi,” kata Verayanti yang pada Kamis (22/9) mendatangi penyidik di Polres Jakarta Barat mempertanyakan perkembangan kasus tersebut. Sejauh ini polisi sudah memeriksa sebanyak 23 saksi tapi masih dianggap kurang lengkap.
Di antara saksi yang diperiksa terdapat nama Linda. Ketika diperiksa statusnya sebagai kepala sekolah SD, tanpa menyebut nasional atau internasional. Sedangkan Aderini, ketika diperiksa sebagai koordinator kurikulum. Aderini diperiksa sebanyak dua kali, atas petunjuk jaksa penuntut umum.

Bila mengacu kepada pelanggaran GSS seperti yang disebut oleh Kasudin, bahwa ada pelanggaran kurikulum, bisa jadi Aderini adalah pihak yang harus diminta pertanggung jawabannya karena menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas memasukan mata pelajaran renang sebagai mata pelajaran wajib.
Kapolres Jakarta Barat Kombes Pol Roycke Harry Langie yang dikonfirmasi wartawan beberapa hari lalu, belum memberikan jawaban.

 

Oleh: *tim

(Visited 10.085 times, 1 visits today)

Simak Juga

Kasatlantas Psr minggu

Polres Jakarta Selatan Gelar Operasi Zebra di Pasar Minggu

Oleh: Rukmana/Budi S JAKARTA, AMUNISINEWS.COM – Operasi Zebra yang di gelar jajaran Polres Jakarta Selatan …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *