Sabtu , 16 Desember 2017
Home / BERITA UTAMA / KPK Ngeri Periksa Nusron Wahid,?

KPK Ngeri Periksa Nusron Wahid,?

GEGER UPETI BOSS LIPPO EDDY SINDORO

Nusron AMUNISINEWS.COM, JAKARTA — Sejak diungkap dalam persidangan oleh Darmaji, sopir salah satu petinggi Lippo Group, bahwa Ketua Gerakan Pemuda (GP) Anshor sekaligus Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Nusron Wahid pernah terima upeti dari boss Lippo Eddy Sindoro, sampai hari ini KPK belum bereaksi. Padahal Juru Bicara KPK, Yuyuk Andriati, mengatakan akan menganalisa fakta tersebut.

Tapi selentingan kabar mengungkap, KPK ngeri manggil Nusron Wahid, apalagi meriksanya karena “anak” kesayangan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Nah, lho!
Bahkan nasib Darmaji hingga saat ini tidak jelas, apakah masih hidup atau buron ke luar negeri bersama Eddy Sindoro.

Sebab, sejak dimulainya persidangan kasus suap yang me-libatkan Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) Edy Nasution, Doddy Ariyanto Supeno (staf Lippo) dan Eddy Sindoro (Preskom Lippo), sopir itu tidak kelihatan batang hidungnya.

Tiga kali persidangan di gelar, tiga kali pula Darmaji nggak nongol di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Akhirnya majelis hakim merintahkan kepada jaksa untuk membacakan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang dibuat polisi, 21 Agustus 2016.
Ketidakhadiran saksi itu ada yang menduga disengaja oleh pihak ketiga, tujuannya agar pengadilan tak bisa mengorek keterangan lebih jauh lagi.

Dengan begitu, proses hukum kasus dugaan gratifikasi dan pemberian upeti kepada pejabat jadi abu-abu. Tapi rupanya majelis hakim Tipikor mencium bau tidak sedap tersebut, keterangan saksi tetap dibacakan di persidangan.
Kesaksian Darmaji di BAP cukup mencengangkan, memang. Selain dia menjabar kesaksian tentang ulah bos Lippo dalam konteks kasus dugaan gratifikasi perkara di PN Jakpus, juga menjelaskan perihal dirinya kerap mengantar bun-gkusan berisi uang untuk pejabat negara. Di antaranya, mantan Menteri Pemberdayaan Aparatur Nega-ra dan Reformasi Birokrasi (Menteri PAN-RB) Yuddy Chrisnandi dan Kepala BNP2TKI, Nusron Wahid.

Menurut sopir Lippo Group ini, bungkusan berisi uang untuk Nusron Wahid di serahkan di kantor GP Anshor. “Bungkusan buat Pak Nusron (Kepala BNP2TKI) diserahkan di kantor Pemuda Ansor,” papar Jaksa Fitroh membacakan BAP Darmaji di persidangan.
Seberapa banyak uang yang diberikan kepada pejabat negara itu, tak dirinci Darmaji dalam BAP-nya. Karena itu memang amat dibutuhkan investigasi KPK untuk menelisik lebih jauh keterangan tersebut agar kasusnya terang benderang. Dan jika dugaan itu benar, tingggal Nuron Wahid yang belum dirumahkan oleh Presiden Jokowi, sedangkan Yuddy Chrisnandi sudah lebih dulu dipecat dari Kementrian PAN-RB.

Muncul pertanyaan, apakah Presiden Jokowi dan KPK berani menyentuh Nusron Wahid, mengingat tokoh GP Anshor tersebut merupakan “anak” kesayangan Wakil Presiden Jusuf Kalla? Ini jelas persoalan. Banyak masyarakat menyatakan tidak akan mungkin dilengserkan, kecuali mahasiswa dan rakyat turun ke jalan mendesak presiden agar Nusron Wahid dipecat.

Kalau hanya sekedar desakan lewat media massa agar Nusron Wahid dipecat, dapat dipastikan tak ditanggapi. Termasuk juga permintaan kepada KPK agar tokoh muda satu ini diperiksa, sampai sejauh ini belum dilakukan pemanggilan.
Hampir sebulan ini desakan Direktur Center for Budget Analysis, Uchok Sky Khadafi, agar KPK segera memanggil Nusron Wahid berkaitan dengan kesaksian (BAP) Darmaji di Pengadilan Tipikor, belum ada reaksi dari lembaga antirasuah tersebut.

Menurut Ucok, secara hukum, keterangan di muka persidangan dapat dibenarkan dan tak perlu diragukan. “Nusron Wahid sudah disebut-sebut namanya di sidang Tipikor. Oleh sebab itu, segera KPK memanggil Nusron,” katanya (25 Agustus 2016).
Pada bagian lain dia mengingatkan, sebaiknya KPK jangan diam dan pura-pura tidak tahu Nusron disebut menerima uang haram dari Lippo Group. “Di Pengadilan Tipikor tidak ada berita bual atau cerita bohong, maka sudah waktunya kepala BNP2TKI Nusron Wahid segera di-panggil KPK untuk dininta keterangannya,” kata Uchok
Juru Bicara KPK Yuyuk Andriati kepada wartawan mengatakan, pihaknya akan menganalisa fakta yang diungkapkan sopir Darmaji dalam kesaksian yang tertuang di dalam BAP. “Semua fakta yang terungkap di persidangan masih akan dianalisa,” jelas Yuyuk (25 Agustus 2016).
Ditambahkan, setelah fakta dianalisa, berikutnya penyidik akan mendalami dengan mengumpulkan bukti serta meminta keterangan sejumlah pihak. “Akan didalami oleh penyidik,” katanya seraya mengingatkan, KPK tetap akan memanggil pihak-pihak yang terkait dalam kasus gratifikasi Panitera PN Jakpus, dan pemaparan saksi dalam persidangan.

Tapi apakah mungkin, sedangkan pihak terkait seperti Eddy Sindoro dan Darmaji tak jelas keberadaannya. Terakhir terungkap kalau bos Lippo Group itu kini berada di negara sarang penyamun Indonesia, yakni Singapura. Dengan begitu, KPK bakal mengalami jalan buntu untuk memeriksa Nusron Wahid, karena kurangnya para pihak yang terlibat untuk diperiksa. Itu sama saja “amsiong”.

Sementara itu, Kepala BNP2TKI Nusron Wahid ketika dikonfirmasi wartawan ternyata malas menang-gapi pernyataan sopir petinggi Lippo Group tersebut. “Saya enggak mau menanggapi, itu tidak relevan dan tidak pen-ting, orang kan boleh aja nyebut-nyebut begitu,” katanya, Jumat (26 Agustus 2016).

Untuk kasus dugaan upeti ini, masyarakat pesimis KPK mampu mengungkapnya. Alasannya itu tadi, pertama Nusron Wahid sosok yang patut dipastikan susah disen-tuh. Kedua, saksi konci dan pelaku pemberian sesuatu kepada pejabat negara tak lagi berada di Indonesia. Dengan begitu, kasus ini bakal dilupakan rakyat negeri ini sejalan dengan perjalanan waktu.

Oleh: *tim/h. sinano esha

(Visited 213 times, 1 visits today)

Simak Juga

241017 Penyegaran Organisasi Jalasenastri-1

Pembekalan Ketum Jalasenastri guna Penyegaran Organisasi, hadir Ketua Korcab V DJAT

Oleh: Herry Subianto   SURABAYA, AMUNISINEWS.COM – Ketua Koordinator Cabang (Korcab) V Daerah Jalasenastri Armada …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *