Senin , 26 Juni 2017
Home / RAGAM / Mengejar Mimpi di Negeri Orang
elfuirrrrr

Mengejar Mimpi di Negeri Orang

 

Oleh: Efira Tamara Thenu

Dengan bekal mimpi dan tekad, keberangkatannya membawa perubahan dalam hidupnya. Tuhan akan selalu memuliakan pekerjaan dan niat yang mulia.

Luar negeri tidak lagi semata menjadi destinasi liburan, dengan harapan mendapat kualitas pendidikan yang lebih baik dan pengalaman baru, banyak orang kini memilih untuk menimba ilmu di negeri orang.

Menjadi perawat adalah pekerjaan yang diimpikan Nadya sejak dulu. Berangkat dengan status lulus SMA, Nadya, seorang Warga Negara Indonesia (WNI) berhasil menjadi bagian dari West Coast Institute di Australia sebagai Nursing Student berkat usaha dan kegigihannya. Nilai IELTS yang memenuhi menjadi salah satu syarat untuk dapat diterima.

Setiba di sana, bullying dan kekhawatiran tidak dapat beradaptasi menjadi hal pertama yang ditakuti olehnya karena perbedaan budaya. Kekhawatiran akan hal-hal tersebut sirna setelah resmi menjalani kehidupan sebagai mahasiswa selama seminggu. Menurutnya ternyata belajar di sana tidak sesulit di Indonesia. Pengajar yang sangat disiplin waktu dan tak pernah datang terlambat menjadi hal positif baginya. Penyampaian materi pelajaran juga sangat kreatif, mulai dari kerja kelompok, kuis, hingga presentasi dadakan dari hasil diskusi bersama dengan peralatan seadanya. Hasil dari pendapat siswa juga sangat dihargai oleh para pengajar. “Tapi kuliah di sini tidak mudah juga, setiap ada exam minimal point agar tuntas itu 80%-85% untuk semester satu,” ujar Nadya.

Setiap semester akan ditutup dengan ujian yang disebut Clinical Placement. Semester satu berakhir dan ditutup dengan ditempatkannya di Aged Care dengan sistem volunteer work atau magang. Kali pertama bekerja di negeri orang ternyata menyenangkan baginya karena banyak orang berumur yang berbagi cerita kasih dan motivasi. Jika mungkin orang berpikir menjadi seorang perawat adalah pekerjaan yang elegan dan mudah, itu salah karena yang diurus adalah semua kebutuhan pasien, seperti memberi makan, mengganti pakaian, membersihkan kotoran dan sebagainya. Tidak hanya itu, menjadi seorang perawat harus siap untuk tahan tidak pergi ke toilet karena harus tetap standby terhadap pasien. Waktu istirahat yang sangat terbatas juga membuat pekerjaan perawat menjadi semakin berat. “Bukan berarti saya tidak suka menjadi perawat, I love nursing, it’s like I already have the passion since I was born. Seneng kalo pasiennya seneng. Seneng kalo pasiennya sembuh,” kata Nadya.

Semester dua menjadi semester yang paling berat. Ia benar-benar bekerja keras pada semester ini. Mental Health menjadi salah satu mata kuliah dalam semester dua yang paling disukai oleh Nadya. “Jujur ini unit favorite saya, karena ini membuat sadar bahwa teman-teman kita atau diri kita sendiri, merasa sedih berkepanjangan, merasa incomplete, merasa sendiri, kita tidak boleh menganggap remeh, anggap kalo mereka cuma being overreacting and they are just sad, karena banyak mental illness yang emang harus ditangani secara serius karna dapat berujung ke self-harm atau lebih parah suicide. Ini juga membuat sadar bahwa pergi ke psikiater bukan berarti loser tetapi lebih kepada keberanian untuk berbagi luka dengan orang lain,” ujarnya.

Setelah mulai dapat beradaptasi dengan lingkungan dan jadwal kuliah, part-time menjadi pilihannya. Menurutnya hidup di Australia terbilang mahal dan lahan pekerjaan yang sedikit apalagi untuk pendatang dan umur yang “nanggung” maka mendapat pekerjaan apapun akan sangat bersyukur. Pada semeseter dua akhirnya ia memutuskan untuk menjadi babysitter atau pengasuh bayi dan anak-anak yang gajinya tak seberapa tapi dapat digunakan untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan.

Semester kedua juga menjadi titik balik dalam hidupnya. Ia dapat melihat dan memahami sesuatu dari sisi yang berbeda. Ia menjalankan praktek mental health pada semester ini yang berlokasi di pedalaman. Untuk sampai ke lokasi butuh perjuagan karena memakan waktu yang lama dan transportasi yang sulit. Menyaksikan dua pasien meninggal menjadi pengalaman baru yang menyentuh hatinya. Pertama adalah ketika ia menjalankan rutinitasnya seperti biasa sebagai perawat. Pagi itu ia menyapa pasiennya seperti biasa, tetapi tak ada respon. Ia kemudian memegang kakinya, tetapi tak ada reaksi. Perlahan ia mencoba memeriksa nadinya dan sang pasien telah pergi. Ini merupakan pengalaman baru yang cukup membuatnya stres karena merasa gagal dalam menjaga pasiennya. Tak selesai disitu, pasien kedua menjadi pasien yang ia saksikan penurunan kondisinya setiap hari hingga akhirnya juga pergi.

Berbekal hasil praktek sebelumnya yang cukup membuatnya tertekan, Nadya melanjutkan prakteknya ke tempat selanjutnya ke sebuah rumah sakit. Praktek ini merupakan pengalaman paling seru bagi Nadya selama praktek yang telah dijalani. Menyuntik pasien berkali-kali, membuka jahitan, melepas infus, dan memberikan oksigen kepada pasien pertama kalinya menjadi pengalaman baru yang sangat menakjubkan untukknya. Rapat bersama para dokter dan melihat kerja Psikoterapi juga menjadi pengalam yang tak terlupakan untuknya.

Ada dua pasien yang dipercaya untuk ditangani sepenuhnya oleh Nadya. Selama merawat pasien-pasien tersebut, ada dua pasien tua lainnya yang sangat menyukai Nadya. Setiap ia datang untuk merawat, kedua pasien tua itu akan berkata “OMG, yes! It is our lucky day.” Mendengar itu membuat hati Nadya terenyuh, membuat semua lelah yang dirasakan hilang begitu saja “What did I do to make someone this sunny looking after me,” ungkap Nadya.

elfir---2
Efira Tamara Thenu

Pada hari terakhir praktek ia merawat pasien yang menderita Skizofrenia. Skizofernia adalah penyakit mental yang menyebabkan pengidapnya mengalami halusinasi atau delusi yang akan mengubah emosi dan perilakunya. Malam itu menjadi malam yang kacau untuknya. Ia mendapat makian, perlakuan fisik, hingga tuduhan tidak pernah memberinya makan dan minum, sedangkan ia harus tetap merawatnya dan tidak boleh membiarkan sang pasien untuk meninggalkan tempat tidurnya, ia menahan pasiennya yang terus memberontak dengan seluruh tubuh dan tenaganya. Tak kuasa menahan sang pasien yang terus bersi keras untuk bangun, akhirnya ia meminta perawat lain membantunya dan meminta dokter untuk memberikan obat penenang. Setelah tenang, sang pasien berubah secara drastis mulai dari ekspresi wajah, mata, dan caranya berkomunikasi. Melihat pasiennya berubah ia merasa bersedih dan tak pantas menjadi perawat karena ketakutan tak dapat keluar dari ruang pasien dengan senyuman.

Tidak sekedar pekerjaan yang baru baginya. Lingkungan sosial yang berbeda juga menjadi hal yang baru lainnya.

Tak hanya cara belajar yang dianggap lebih baik, pergaulan di sana juga lebih nyaman bagi Nadya karena menurutnya di sana orang lebih saling menghargai. Mereka tidak memandang pakaian apa yang dikenakan, mereka lebih memandang bagaimana kepribadian seseorang, “It’s not about the clothes you are wearing, it’s about what’s inside your mind you are having,” kata Nadya. Pergaulan yang menyangkut bullying, kepercayaan, rasisme, seksualisme, dan ejekan secara fisik di sini juga jauh lebih ketat menurutnya. Jarang ditemukan orang-orang yang bergurau dengan hal-hal seperti itu. Orang-orangnya juga dianggap lebih dewasa dan mandiri karena di umur 18 tahun banyak yang sudah tinggal sendiri, dengan biaya sendiri, benar-benar lepas dari orang tua karena menganggap sudah mampu terhadap dirinya sendiri tanpa harus lagi membebani orang tua.

Terbang jauh dari tanah air memberikannya setetes demi setetes makna dari kehidupan dan mimpinya. Tumbuh di tanah orang membuatnya banyak menemukan hal baru yang berharga.

 

 

 

 

 

(Visited 71 times, 1 visits today)

Simak Juga

Anugerah Citra Kartini untuk Perempuan Tangguh Sidoarjo

SIDOARJO,AMUNISI  – Puncak acara peringatan Hari Kartini Kabupaten Sidoarjo dilaksanakan di Pendopo Delta Wibawa Kabupaten Sidoarjo, …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *