Jumat , 24 November 2017
Home / RAGAM / ‘Prajurit Bertombak’ Kawal Sedekah Laut 2017 di Cilacap

‘Prajurit Bertombak’ Kawal Sedekah Laut 2017 di Cilacap

Oleh Muljono

seedekah laut- nasional

CILACAP, AMUNISINEWS.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cilacap, Jateng, menggelar budaya sedekah laut yang rutin diadakan setiap bulan Suro setiap tahunnya dan jatuh pada Jumat Kliwon. Kegiatan ini diikuti oleh ratusan nelayan di pesisir Pantai Cilacap dan disaksikan ribuan warga.

Awal kegiatan gelar budaya Sedekah Laut dilaksanakan tasyakuran pada hari kamis malam pukul 19.00 (5/10) di pendopo agung Bupati Cilacap. Semua lapisan masyarakat berkumpul terutama masyarakat nelayan yang tergabung Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Cilacap.

Pendopo Agung Bupati Cilacap dipadati oleh pejabat dan masyarakat, hadir jajaran Forkopimda Kabupaten Cilacap, SKPD-SKPD, Dharma wanita, budayawan dan kasepuhan. Masing-masing membawa tumpeng dan dikelilingi oleh kelompoknya.

Pembukaan gelar budaya Sedekah Laut ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Bupati Cilacap H. Tatto Suwarto Pamudji, dan diberikan kepada ketua DPD HNSI Kabupaten Cilacap Sarjono. Setelah itu dilanjutkan dengan makan tumpeng bersama sebagai rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa.

Sementara itu Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Cilacap, Murniyah, menjelaskan prosesi sedekah laut dimulai sejak hari Kamis (5/10) dengan kegiatan ziarah yang dilanjutkan dengan tirakatan pada malam harinya.

Menurut dia, tradisi sedekah laut akan dimulai dengan kirab “jolen” (sesaji yang akan dilarung, red.) dari Pendopo Kabupaten Cilacap menuju Pantai Teluk Penyu dan selanjutnya dibawa ke Pulau Majeti di selatan Pulau Nusakambangan pada Jumat (6/10) pagi.

“Pada Jumat (6/10) malam akan ada pergeleran seni di setiap kelompok malam dan pada Sabtu (7/10) malam ada pergelaran kesenian dari berbagai kabupaten di wilayah Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen),” jelasnya.

Prosesi dimulai dengan arak-arakan 11 jolen (sesaji) yang akan dilarung ke pantai selatan, Jumat (6/10). Jolen tersebut dikirab dari Pendopo Kabupaten Cilacap menuju pantai teluk Penyu, Cilacap, kemudian dibawa ke pulau Mejeti untuk dilarung di Samudera Hindia.

Iring-iringan kirab tersebut terdiri dua perempuan berkuda, barisan prajurit bertombak, barisan umbul-umbul, 14 putri domas, 14 putri pengiring, kereta kuda yang membawa bupati Cilacap dan istri serta pejabat lainnya, sejumlah becak, dan prajurit pembawa “jolen”.
Kegiatan sedekah laut ini merupakan tradisi tahunan yang sudah berlangsung sejak masa pemerintahan Adipati

Cakrawerdaya III pada tahun 1817. Tetapi tradisi tersebut sempat terhenti dan baru dihidupkan kembali pada masa Bupati Poedjono Pranjoto pada tahun 1982 hingga saat ini.

Ritual tahunan ini juga merupakan ungkapan rasa syukur para nelayan atas hasil tangkapan mereka yang melimpah sejak beberapa bulan terakhir. Tampak kepala kerbau sebagai sesaji berada dalam “jolen” yang disusun di dalam tandu yang diusung para nelayan.

Murniyah, menyatakan, prosesi sedekah laut kali ini sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya. Prajurit bertombak menggunakan pakaian bergaya kerajaan Mataram. Karena prosesi yang dilaksanakan semasa pemerintahan Adipati Cakrawedaya III yang konon memiliki hubungan dekat dengan Keraton Yogyakarta.

“Prajurut bertombak dalam prosesi kali ini menggunakan gaya Mataraman, yakni berpakaian “Lombok Abangan” khas Keraton Yogyakarta,” katanya kepada wartawan.

Edutor Hendra Usmaya

(Visited 32 times, 1 visits today)

Simak Juga

kunjungan filadse;pia- jatim

Kunjungi Philadelphia, Risma Jajal Mobil Pembersih Jalan

Oleh Irman T SURABAYA, AMUNISINEWS.COM-Walikota Surabaya Tri Rismaharini memang dijadwalkan menjadi pembicara, sekaligus berpeluang menerima …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *