Jumat , 19 Januari 2018
Home / HUKUM-KRIMINAL / Rani Bebas dari Bui Tapi Masih Kehilangn Bayi

Rani Bebas dari Bui Tapi Masih Kehilangn Bayi

saat pengacara menengok Bayi Ranyoleh: diantoro dan John

JAKARTA, AMUNISI. Rani Sutika dan suaminya Dedy Junaedi yang memperoleh pembebasan bersyarat dari Polres Jakarta Utara, masih memendam duka.

Pasalnya bayi kecil mereka masih di tempatkan Rumah Perlidungan Sosial Anak di Kompleks Depsos, Bambu Apus, Jakarta Timur. Rani yang saat di penjara sempat menyusui bayinya, merasa amat kehilangan. Meski karena anak itu ia dan suaminya sempat masuk bui, sebagai seorang ibu, hatinya teriris harus dipisahkan dari sang buah hati.

“ Saya kangen sekali ingin menimangnya, saya ingin dia dikembalikan ke kami. Kalaupun sampai sekarang kami masih wajib lapor karena kasusnya dianggap belum tuntas, kan nggak harus memisahkan anak itu dari saya. Kami mau mengurus dia. Kami nggak tahu nasibnya sekarang, harusnya dia masih menyusu seperti bayi lain tapi kenapa saya nggak dikasih kesempatan ,” isak Rani , membayangkan putra yang belum sempat dinamainya itu.
Pasangan yang sempat ditahan sejak Sabtu ( 12/9 ) dengan sangkaan melanggar pasal 83 UU RI No 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI no 23 tahun 2002 dan berkat bantuan Law Firm DSH & Associates mendapat pembebasan bersyarat sejak Kamis ( 1/10) ini, gundah tak tahu permasalahannya bakal bermuara dimana.

“ Saya takut sekali kalau nantinya anak saya dikirim ke panti lain terus diadopsi orang yang nggak kami kenal. Saya nggak mau kehilangan dia. Kata orang, kalau proses hukum kelar dan anak gak boleh diambil , bisanya anak dikirim ke panti lain dan boleh diadopsi,” ujar Rani lirih.

Permasalahan Rani seharusnya tak serumit ini, kalau memang tuduhannya dan bukti kesalahannya kuat sebaiknya jangan terlalu lama menunda persidangan, sehingga keputusannya jelas. Namun jika pasal yang dituduhkan tak jelas dan bukti tak kuat, sebaiknya segera di SP3 sehingga status hukum kedua orangtua ini bisa jelas.”
Kalau dibebaskan kami tidak menuntut apapun , kami nggak pernah berniat jual bayi, kalaupun dulu kami sempat membiarkan anak kami diadopsi, itu karena ketidakmampuan kami membayar biaya RS. Itupun syarat kami si anak dirawat baik dan disekolahkan serta kami boleh nengok dia,” ujar Dedy penuh sesal. “

Kalau sekarang, kami nggak mau dia diadopsi, kami mau besarkan sendiri. Tentang orang yang sudah bayarkan biaya rumah sakit dan mau adopsi si bayi, kami akan berusaha mengembalikan uangnya, entah bagaimana caranya..” tambah Dedy muram.

Kasus Rani harusnya memperoleh perlakuan khusus, karena selain kedua suami istri ini ada seorang anak yang terlibat di dalamnya. Bagaimanapun si anak berhak mendapatkan asi ekslusif dari ibunya, ini program yang dicanangkan pemerintah. Memisahkan anak dari ibunya mungkin bisa dimaklumi ketika si ibu di penjara. Kondisi sel yang tak layak untuk pertumbuhan si anak mungkin bisa jadi alasan

. Tapi kini si ibu sudah kembali ke rumah, ada baiknya keberadaan bayi dipertimbangkan lagi. Sebaik-baik rawatan panti lebih baik pelukan ibu kandungnya. Menjadikannya anak Negara sementara ia masih punya orangtua yang menyayanginya berarti merenggut hak si anak. Barangkali Komnas Perlindungan Anak perlu turun tangan jika hal ini tetap dibiarkan, karena ada hak anak manusia lemah yang tak diindahkan.(hu)

(Visited 61 times, 1 visits today)

Simak Juga

polsek jebus

Polsek Jebus Ungkap Pelaku Pencurian, Pelaku Masih di Bawah Umur

Oleh Herman Saleh MUNTOK, BABEL, AMUNISINEWS.COM-Polsek Jebus Polres Bangka Barat berhasil mengamankan pelaku pencurian di …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *