Bisnis  

10 Penyakit Akibat Kerja Paling Umum dan Faktor Penyebabnya

10 Penyakit Akibat Kerja Paling Umum dan Faktor Penyebabnya

Penyakit akibat kerja (PAK) adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja. Berbeda dari cedera mendadak akibat kecelakaan, banyak PAK berkembang secara perlahan setelah paparan berulang. Dampaknya dapat berupa gangguan kesehatan sementara, penurunan kemampuan bekerja, hingga kecacatan permanen.

Pembahasan 10 penyakit akibat kerja paling umum dan faktor penyebabnya berikut mencakup penyakit serta kelompok gangguan yang penting dalam kesehatan kerja. Daftar ini bukan peringkat prevalensi: jenis penyakit yang dominan berbeda menurut sektor, lingkungan, dan pola kerja. Penetapan diagnosis PAK membutuhkan pemeriksaan serta penilaian hubungan penyakit dengan pekerjaan oleh dokter.

Faktor yang Meningkatkan Risiko Penyakit Akibat Kerja

Risiko dipengaruhi oleh jenis bahaya, tingkat paparan, frekuensi, dan lamanya seseorang terpapar. Ventilasi buruk, peralatan tidak terawat, posisi kerja yang tidak sesuai, serta pengendalian bahaya yang lemah dapat memperbesar risiko. Kondisi kesehatan individu juga berpengaruh, tetapi tidak menggantikan tanggung jawab tempat kerja untuk menyediakan perlindungan yang memadai.

10 Penyakit Akibat Kerja dan Penyebabnya

1. Gangguan Muskuloskeletal

Gangguan muskuloskeletal memengaruhi otot, tendon, sendi, dan struktur penunjang tubuh. Contohnya tendinitis, sindrom terowongan karpal, serta gangguan punggung bawah. Keluhannya dapat berupa nyeri, kesemutan, atau keterbatasan gerak.

Faktor penyebab: mengangkat beban berat, gerakan berulang, penggunaan tenaga berlebihan, dan postur janggal dalam waktu lama. Meja kerja yang tidak sesuai serta kurangnya kesempatan berganti posisi turut meningkatkan risiko.

2. Dermatitis Kontak Akibat Kerja

Dermatitis kontak merupakan peradangan kulit akibat iritasi atau reaksi alergi terhadap bahan tertentu. Gejalanya meliputi kemerahan, gatal, kulit pecah-pecah, dan kadang lepuhan. Tangan sering terdampak karena paling banyak bersentuhan dengan bahan kerja.

Faktor penyebab: paparan deterjen, pelarut, semen, bahan pewarna, atau komponen sarung tangan tertentu. Pekerjaan yang membuat tangan sering basah juga dapat merusak lapisan pelindung kulit.

3. Asma Akibat Kerja

Asma akibat kerja dapat menyebabkan batuk, mengi, sesak, dan rasa berat di dada. Keluhan kadang membaik saat libur, meskipun pola tersebut tidak selalu muncul. Asma yang baru timbul akibat pekerjaan perlu dibedakan dari asma sebelumnya yang diperburuk lingkungan kerja.

Faktor penyebab: menghirup debu tepung, debu kayu, protein hewan, isosianat, atau bahan iritan di tempat kerja.

4. Pneumokoniosis

Pneumokoniosis adalah kelompok penyakit paru akibat menghirup debu mineral tertentu. Contohnya silikosis akibat silika kristalin dan pneumokoniosis pekerja batu bara. Sebagian dapat menyebabkan jaringan parut paru dan gangguan pernapasan menetap.

Faktor penyebab: paparan debu respirabel saat menambang, memotong batu, mengebor, atau mengolah mineral. Risiko meningkat apabila pekerjaan dilakukan tanpa pengendalian debu dan perlindungan pernapasan yang sesuai.

5. Gangguan Pendengaran Akibat Bising

Paparan suara keras dapat merusak sel sensorik telinga dalam dan menyebabkan penurunan pendengaran permanen. Tanda awalnya bisa berupa telinga berdenging atau kesulitan memahami percakapan, terutama di lingkungan ramai.

Faktor penyebab: kebisingan mesin, alat berat, peralatan produksi, dan bunyi impulsif seperti ledakan. Besarnya risiko bergantung pada intensitas suara serta durasi paparan, bukan sekadar rasa tidak nyaman.

6. Keracunan Bahan Kimia Akibat Kerja

Bahan kimia tertentu dapat menimbulkan keracunan akut maupun gangguan kronis. Organ yang terdampak bergantung pada zatnya, misalnya sistem saraf, ginjal, hati, atau darah. Gejalanya tidak selalu khas sehingga riwayat paparan sangat penting.

Faktor penyebab: paparan timbal, merkuri, pestisida, atau pelarut tertentu melalui pernapasan, kulit, maupun tertelan secara tidak sengaja akibat tangan atau makanan yang terkontaminasi.

7. Penyakit Infeksi Akibat Kerja

Pekerjaan tertentu meningkatkan risiko infeksi, misalnya tuberkulosis pada tenaga kesehatan, hepatitis B akibat pajanan darah, atau leptospirosis pada pekerja yang bersentuhan dengan air tercemar. Hubungan dengan pekerjaan perlu ditelusuri karena penularan juga dapat terjadi di luar tempat kerja.

Faktor penyebab: kontak dengan pasien infeksius, tertusuk jarum, aerosol infeksius, serta paparan hewan atau lingkungan yang terkontaminasi.

8. Gangguan Mental Terkait Pekerjaan

Depresi dan gangguan kecemasan dapat dipicu atau diperburuk oleh kondisi kerja. Namun, penyebabnya sering melibatkan banyak faktor sehingga tidak otomatis dinyatakan sebagai PAK. Burnout juga tidak boleh disamakan begitu saja dengan diagnosis depresi.

Faktor penyebab: beban kerja berlebihan, perundungan, kekerasan, jam kerja panjang, ketidakjelasan peran, dan rendahnya dukungan organisasi. Pencegahan perlu menyasar kondisi kerja, bukan hanya ketahanan individu.

9. Kanker Akibat Kerja

Beberapa kanker berkaitan dengan paparan karsinogen di tempat kerja. Contohnya mesotelioma akibat asbes dan peningkatan risiko leukemia akibat benzena. Penyakit dapat muncul bertahun-tahun atau puluhan tahun setelah paparan dimulai.

Faktor penyebab: paparan zat karsinogen seperti asbes, benzena, dan silika kristalin respirabel, serta radiasi tertentu. Risiko bergantung pada jenis agen, dosis kumulatif, dan faktor individu lainnya.

10. Sindrom Getaran Tangan-Lengan

Sindrom getaran tangan-lengan dapat memengaruhi pembuluh darah, saraf, dan fungsi tangan. Gejalanya meliputi jari memutih saat dingin, kesemutan, mati rasa, serta berkurangnya kekuatan genggaman.

Faktor penyebab: penggunaan alat bergetar seperti gerinda, bor, dan palu pneumatik secara berulang atau berkepanjangan. Paparan dingin, genggaman terlalu kuat, dan peralatan yang tidak terawat dapat memperburuk keluhan.

Cara Mencegah Penyakit Akibat Kerja

Pencegahan paling efektif mengikuti hierarki pengendalian bahaya, bukan hanya mengandalkan alat pelindung diri.

  • Hilangkan atau ganti bahaya: gunakan bahan maupun proses yang lebih aman jika memungkinkan.
  • Terapkan pengendalian teknis: pasang penyedot debu lokal, peredam bising, pelindung mesin, dan alat bantu angkat.
  • Perbaiki pengaturan kerja: sesuaikan beban kerja, waktu istirahat, prosedur, serta desain tempat kerja.
  • Gunakan APD yang sesuai: pilih respirator, sarung tangan, atau pelindung pendengaran berdasarkan penilaian risiko.
  • Lakukan pemantauan: ukur paparan dan jalankan pemeriksaan kesehatan berbasis risiko, termasuk vaksinasi yang relevan seperti hepatitis B.

Kapan Perlu Memeriksakan Diri?

Periksakan diri jika keluhan muncul atau memburuk saat bekerja, berulang setelah tugas tertentu, atau dialami beberapa rekan kerja. Catat pekerjaan, bahan yang digunakan, lama paparan, dan pola gejala untuk membantu evaluasi. Sesak berat, penurunan kesadaran, atau dugaan keracunan akut memerlukan pertolongan segera. Deteksi dini dan perbaikan sumber bahaya penting untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.