Pertamina Geothermal Energy Melalui CSR Menciptakan Program Ngopi Doeloe

Data Kementerian Pertanian menunjukkan, konsumsi kopi domestik naik 13,9 persen (year on year) mencapai 294 ribu ton pada 2020. Ceruk pasar yang menggiurkan ini menarik minat para milenial. Mereka kini tak malu-malu lagi untuk menjadi petani. Seperti yang dilakukan Kukuh Diki Prasetia (30). Pemuda alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini memiliki lahan kopi seluas 100 hektare di Ulubelu, Tanggamus, Lampung. Dari lahannya ini, dia mampu memproduksi sekitar 100 ton kopi per tahun.

“Saya dulu awalnya 2013-2015 buka kedai kopi di Yogyakarta. Lalu 2016 pulang ke Lampung,” kata Kukuh dalam publikasi PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), Jumat (17/9/2021). Di kampung halamannya, Kukuh fokus mengembangkan perkebunan kopi, mulai saat tanam hingga pasca-panen. Bahkan, dia juga membangun kedai kopi berbasis edukasi di lahan rumahnya. Selain tempat ngopi, kedai Kopi Beloe miliknya juga kini menjadi mitra pemerintah daerah untuk mengedukasi para petani dan anak muda seantero negeri yang ingin menekuni bisnis kopi.

Misinya untuk meningkatkan kesejahteraan petani Ulubelu dan mengangkat kopi khas Lampung ini ke berbagai penjuru ini yang membuat PGE tertarik. Bersama Kukuh, PGE melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) menciptakan program Ngopi Doeloe.

“Jadi awalnya 2018 itu rekan-rekan dari PGE suka ngopi di tempat saya. Kita ngobrol banyak, lalu kita dibantu dalam edukasi petani dan masyarakat Ulubelu dalam meningkatkan kualitas kopi dari sini,” cerita Kukuh.

Program Ngopi Doeloe ini merupakan inisiasi dari PGE dengan pemerintah setempat yang berfokus pada pengelolaan pasca-panen benih kopi dengan tujuan untuk menciptakan kemandirian petani kopi di Ulubelu dalam mengolah hasil panen sehingga berdampak pada harga jual kopi olahan yang lebih tinggi.

Berdasarkan data Social Maping pada 2019, sebanyak 83,3 persen penduduk Ulubelu memiliki profesi sebagai petani kopi, dan para petaninya belum memiliki edukasi yang cukup mengenai pengolahan pasca-panen sehingga menyebabkan para petani harus menjual benih kopi dengan harga yang lebih murah.

Program Ngopi Doeloe membantu para petani mulai dari pembibitan, perawatan, panen, sortasi biji, penjemuran, sangrai/Roasting, giling, pengemasan sampai dengan pemasaran dan pengolahan varian produk.

Selain itu, dari segi edukasi untuk para petani, PGE membentuk Rumah Belajar Kopi sebagai sarana bagi para petani untuk pengembangan pengetahuan kelompok petani dan masyarakat. Sedangkan, dari segi inovasi sejauh ini telah menghadirkan tiga inovasi yang membantu para petani untuk mengolah benih kopi seperti inovasi pengering kopi memanfaatkan panas dari brine, inovasi roasting hemat biaya, dan inovasi sortasi. (Rilis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Berita Lainnya