Diabetes sering dianggap sebagai satu penyakit yang muncul akibat terlalu banyak makan manis. Padahal, diabetes memiliki beberapa jenis dengan mekanisme berbeda. Dua yang paling dikenal adalah diabetes tipe 1 dan tipe 2. Keduanya menyebabkan kadar gula darah meningkat, tetapi bukan berarti penyebab dan pengobatannya sama.
Memahami perbedaan diabetes tipe 1 vs tipe 2 membantu Anda mengenali tanda yang perlu diperiksa sekaligus menghindari anggapan keliru. Hal terpenting: jenis diabetes tidak dapat dipastikan hanya dari usia, bentuk tubuh, atau gejala seseorang.
Apa Peran Insulin dalam Diabetes?
Insulin adalah hormon yang diproduksi sel beta pankreas. Hormon ini membantu glukosa, atau gula, masuk ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi. Ketika insulin tidak mencukupi atau tubuh tidak meresponsnya dengan baik, glukosa menumpuk dalam darah.
Gula darah tinggi yang berlangsung lama dapat merusak pembuluh darah dan saraf. Namun, mekanisme awal masalah insulin pada diabetes tipe 1 dan tipe 2 berbeda.
Perbedaan Penyebab Diabetes Tipe 1 dan Tipe 2
Diabetes Tipe 1: Kerusakan Sel Penghasil Insulin
Diabetes tipe 1 umumnya merupakan penyakit autoimun. Sistem kekebalan tubuh keliru menyerang sel beta pankreas sehingga produksi insulin menjadi sangat sedikit atau tidak ada. Akibatnya, tubuh membutuhkan insulin dari luar untuk mempertahankan fungsi normalnya.
Faktor genetik dan lingkungan berperan dalam proses ini, tetapi pemicu pastinya belum sepenuhnya dipahami. Diabetes tipe 1 bukan disebabkan oleh konsumsi gula berlebihan dan bukan akibat kegagalan seseorang menjaga gaya hidup.
Diabetes Tipe 2: Resistensi Insulin dan Penurunan Produksi Insulin
Pada diabetes tipe 2, sel tubuh menjadi kurang peka terhadap insulin, yang disebut resistensi insulin. Pankreas awalnya berusaha mengimbanginya dengan memproduksi lebih banyak insulin. Seiring waktu, produksi tersebut bisa tidak lagi mencukupi kebutuhan tubuh.
Risikonya dipengaruhi berbagai faktor, termasuk riwayat keluarga, pertambahan usia, kurang aktivitas fisik, kelebihan lemak tubuh terutama di area perut, serta riwayat diabetes gestasional. Meski demikian, orang dengan berat badan normal juga dapat mengalami diabetes tipe 2.
Perbedaan Kunci yang Mudah Diingat
- Masalah utama: tipe 1 terutama berupa kekurangan insulin akibat kerusakan sel beta; tipe 2 melibatkan resistensi insulin dan penurunan kemampuan pankreas menghasilkan insulin.
- Usia kemunculan: tipe 1 sering terdiagnosis pada anak atau remaja, tetapi dapat muncul pada usia berapa pun. Tipe 2 lebih umum pada orang dewasa, tetapi juga dapat terjadi pada anak dan remaja.
- Perkembangan gejala: tipe 1 sering tampak cepat dalam hitungan minggu, sedangkan tipe 2 biasanya berkembang perlahan dan bisa lama tidak disadari.
- Kebutuhan insulin: tipe 1 memerlukan terapi insulin. Pada tipe 2, kebutuhan insulin bergantung pada kondisi dan perjalanan penyakit.
Gejala yang Sama, Kecepatan Muncul Berbeda
Kedua jenis diabetes dapat menyebabkan sering buang air kecil, terutama malam hari, mudah haus, cepat lapar, kelelahan, penglihatan kabur, dan penurunan berat badan tanpa sebab jelas. Infeksi berulang atau luka yang lambat sembuh juga dapat menjadi tanda gula darah tinggi.
Pada tipe 1, keluhan sering muncul lebih mendadak dan penurunan berat badan dapat terlihat jelas. Namun, pada sebagian orang dewasa, proses autoimunnya berkembang lebih lambat. Pada tipe 2, gejala bisa ringan atau bahkan tidak terasa sehingga penyakit baru diketahui melalui pemeriksaan darah.
Segera cari pertolongan darurat jika muncul muntah, nyeri perut, napas cepat dan dalam, bau napas seperti buah, kebingungan, atau mengantuk berat. Keluhan tersebut dapat menandakan ketoasidosis diabetik, kondisi berbahaya akibat kekurangan insulin berat. Kondisi ini lebih sering terjadi pada tipe 1, tetapi juga mungkin terjadi pada tipe 2.
Bagaimana Dokter Menentukan Diagnosis?
Dokter mendiagnosis diabetes melalui pemeriksaan laboratorium, seperti gula darah puasa, HbA1c, atau tes toleransi glukosa oral. Sebagai contoh, gula darah puasa 126 mg/dL atau lebih setelah berpuasa setidaknya delapan jam, atau HbA1c 6,5% atau lebih, termasuk kriteria diagnosis diabetes.
Jika tidak ada gejala khas atau hiperglikemia yang jelas, hasil abnormal biasanya perlu dikonfirmasi dengan pemeriksaan ulang atau tes lain. Alat cek gula darah rumahan bermanfaat untuk pemantauan, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan laboratorium untuk diagnosis.
Untuk membedakan tipenya, dokter mempertimbangkan riwayat penyakit dan perjalanan gejala. Pemeriksaan autoantibodi serta C-peptide, yang membantu menilai produksi insulin tubuh, dapat diperlukan ketika jenis diabetes belum jelas.
Perbedaan Penanganan dan Perawatan
Penanganan Diabetes Tipe 1
Terapi utamanya adalah insulin, melalui suntikan atau pompa insulin sesuai kebutuhan. Pemantauan gula darah, termasuk dengan sensor glukosa bila tersedia, membantu penyesuaian terapi. Pengaturan makan, pemahaman jumlah karbohidrat, aktivitas fisik, dan edukasi penanganan gula darah rendah juga sangat penting.
Pola makan, olahraga, atau suplemen tidak dapat menggantikan insulin pada diabetes tipe 1. Jangan menghentikan insulin tanpa arahan tenaga kesehatan.
Penanganan Diabetes Tipe 2
Perawatannya mencakup pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, pengelolaan berat badan bila diperlukan, serta obat sesuai kondisi. Sebagian orang membutuhkan insulin, baik sementara maupun jangka panjang. Penggunaan insulin bukan tanda kegagalan pribadi, melainkan bagian dari penanganan yang tepat.
Pada sebagian pasien, penurunan berat badan yang bermakna dapat membantu mencapai remisi, yaitu gula darah berada di bawah ambang diabetes tanpa obat penurun gula selama periode tertentu. Remisi bukan berarti sembuh permanen; pemantauan tetap diperlukan.
Bisakah Keduanya Dicegah?
Belum ada perubahan gaya hidup yang terbukti mencegah diabetes tipe 1. Sebaliknya, risiko diabetes tipe 2 dapat diturunkan melalui aktivitas fisik, pola makan bergizi, pengelolaan berat badan, dan tidak merokok, meskipun tidak semua kasus dapat dicegah.
Kedua jenis diabetes tetap membutuhkan pemeriksaan mata, ginjal, kaki, tekanan darah, dan kolesterol sesuai anjuran. Dengan perawatan yang tepat, risiko komplikasi dapat dikurangi. Jika Anda memiliki gejala atau faktor risiko, konsultasikan pemeriksaan kepada dokter daripada menebak jenis diabetes sendiri.






