Kecelakaan di rumah dapat terjadi saat memasak, membersihkan ruangan, atau menemani anak bermain. Luka sayat, luka bakar, mimisan, hingga tersedak membutuhkan respons yang tepat. Pertolongan pertama bertujuan menjaga keselamatan dan mencegah kondisi memburuk sebelum bantuan medis tersedia, bukan menggantikan pemeriksaan dokter.
Panduan pertolongan pertama di rumah dan kesalahan yang sering dilakukan berikut dapat membantu keluarga mempersiapkan diri. Utamakan keselamatan dan jangan menunda pertolongan profesional ketika muncul tanda bahaya.
Langkah Awal: Amankan Lokasi dan Periksa Respons
Sebelum menyentuh korban, pastikan tidak ada bahaya seperti api, kabel beraliran listrik, atau pecahan kaca. Gunakan sarung tangan jika tersedia, terutama ketika menangani darah.
- Periksa respons: panggil korban dan tepuk bahunya perlahan.
- Periksa pernapasan: amati apakah korban bernapas normal, maksimal 10 detik. Napas megap-megap bukan pernapasan normal.
- Minta bantuan: hubungi 119 untuk kegawatdaruratan medis atau 112 jika tersedia di daerah Anda. Aktifkan pengeras suara agar dapat mengikuti instruksi petugas.
Jika korban dewasa tidak responsif dan tidak bernapas normal, segera mulai resusitasi jantung paru (RJP) di permukaan keras dan datar. Tekan bagian tengah dada sedalam sekitar 5–6 cm dengan kecepatan 100–120 kali per menit, sambil membiarkan dada kembali mengembang setelah setiap tekanan. Jika belum terlatih memberikan napas bantuan, lakukan kompresi dada terus-menerus. Jika terlatih, gunakan pola 30 kompresi dan 2 napas bantuan. Gunakan AED bila tersedia dan ikuti petunjuknya.
Lanjutkan sampai bantuan mengambil alih atau korban menunjukkan tanda kehidupan dan bernapas normal. Jika korban tidak sadar tetapi bernapas normal, posisikan miring untuk menjaga jalan napas apabila tidak dicurigai cedera tulang belakang, lalu pantau pernapasannya. Jangan memberikan makanan atau minuman.
Pertolongan Pertama untuk Kejadian yang Sering Terjadi
1. Luka Sayat dan Perdarahan
Tekan sumber perdarahan menggunakan kasa atau kain bersih secara terus-menerus. Jangan berulang kali mengangkat kain untuk memeriksa luka karena dapat mengganggu pembekuan darah. Jika darah merembes, tambahkan lapisan kain dan pertahankan tekanan.
Setelah perdarahan pada luka kecil berhenti, bilas dengan air bersih mengalir. Bersihkan kulit sekitarnya menggunakan sabun, lalu tutup dengan balutan steril yang tidak melekat. Ganti balutan ketika basah atau kotor.
Kesalahan umum: menuangkan alkohol atau hidrogen peroksida langsung ke luka, serta mencabut benda yang tertancap. Bahan tersebut dapat mengiritasi jaringan, sedangkan pencabutan benda dapat memperberat perdarahan. Tekan di sekitar benda, bukan di atasnya, dan cari bantuan medis.
Perdarahan deras membutuhkan bantuan darurat segera sambil terus ditekan. Luka dalam, menganga, gigitan, atau luka kotor perlu diperiksa, termasuk untuk menilai kebutuhan perlindungan tetanus.
2. Luka Bakar Akibat Panas
Jauhkan korban dari sumber panas. Dinginkan bagian yang terbakar dengan air mengalir bersuhu sejuk selama 20 menit. Jaga bagian tubuh lainnya tetap hangat, terutama pada anak. Lepaskan cincin, jam, atau pakaian di sekitar luka sebelum terjadi pembengkakan, tetapi jangan menarik kain yang melekat pada kulit.
Setelah didinginkan, tutup longgar menggunakan balutan steril yang tidak melekat. Jangan memecahkan lepuhan.
Kesalahan umum: mengoleskan pasta gigi, mentega, minyak, atau menempelkan es langsung. Tindakan tersebut dapat mengiritasi atau memperparah kerusakan jaringan.
Luka bakar luas, dalam, mengenai wajah atau alat kelamin, serta akibat listrik atau bahan kimia memerlukan penanganan medis segera. Jangan menganggap langkah untuk luka bakar panas selalu cukup bagi luka bakar kimia atau listrik.
3. Mimisan
Dudukkan korban dengan tubuh sedikit condong ke depan. Jepit bagian lunak hidung, tepat di bawah tulang hidung, selama 10–15 menit tanpa dilepas. Minta korban bernapas melalui mulut dan meludahkan darah yang masuk ke mulut.
Kesalahan umum: mendongakkan kepala atau berbaring telentang. Darah dapat mengalir ke tenggorokan dan memicu tersedak atau muntah. Hindari pula menyumpal hidung dengan tisu terlalu dalam.
Cari pertolongan medis jika mimisan belum berhenti setelah sekitar 20 menit penekanan yang benar, darah sangat banyak, atau disertai lemas, sesak, maupun cedera kepala.
4. Tersedak
Jika korban masih mampu batuk kuat dan berbicara, anjurkan terus batuk sambil diawasi. Jangan memberikan air atau memasukkan jari ke mulut.
Jika orang dewasa atau anak di atas satu tahun tidak mampu berbicara, bernapas, atau batuk efektif, segera minta bantuan. Condongkan tubuhnya ke depan, lalu berikan 5 pukulan tegas di antara tulang belikat menggunakan pangkal telapak tangan. Jika belum berhasil, berikan 5 dorongan perut: letakkan kepalan di atas pusar, jauh di bawah ujung tulang dada, lalu tarik ke dalam dan ke atas. Ulangi bergantian sampai sumbatan keluar atau korban tidak responsif.
Pada ibu hamil atau orang yang perutnya tidak dapat dirangkul, gunakan dorongan dada, bukan perut. Pada bayi di bawah satu tahun, gunakan 5 pukulan punggung dan 5 dorongan dada sambil menopang kepala dan leher, dengan kepala lebih rendah dari dada. Jangan melakukan dorongan perut pada bayi.
Jika korban tidak responsif, baringkan dengan aman dan mulai RJP sesuai usia mengikuti arahan petugas darurat. Jangan mengorek mulut secara membabi buta; keluarkan benda hanya jika terlihat jelas dan mudah dijangkau.
5. Dugaan Keracunan
Jika seseorang menelan obat berlebihan atau bahan pembersih, segera hubungi layanan darurat, meskipun belum muncul gejala. Simpan kemasan produk dan catat perkiraan jumlah serta waktu paparan.
Kesalahan umum: memaksa muntah atau memberikan susu, air garam, maupun bahan penetral. Tindakan ini dapat memperburuk kondisi. Jangan memberikan apa pun melalui mulut kecuali diarahkan tenaga kesehatan.
Siapkan Perlengkapan dan Rencana Darurat
- Sediakan sarung tangan sekali pakai, kasa steril, plester, balutan tidak melekat, perban, gunting, dan termometer.
- Simpan nomor darurat, alamat fasilitas kesehatan terdekat, serta daftar alergi dan obat rutin anggota keluarga.
- Periksa isi kotak pertolongan pertama secara berkala dan jauhkan obat dari jangkauan anak.
- Ikuti pelatihan pertolongan pertama dan RJP, terutama bila tinggal bersama bayi, anak, atau lansia.
Jangan menunggu kondisi memburuk jika muncul sesak berat, nyeri dada, tanda stroke, penurunan kesadaran, atau perdarahan hebat. Respons cepat, tindakan yang benar, dan komunikasi dengan petugas medis jauh lebih bermanfaat daripada mencoba pengobatan rumahan yang belum terbukti aman.






